Senin, 31 Oktober 2022

I.3. Mengenal Allah Sebagai Pemberi

 MENGENAL ALLAH SEBAGAI PEMBERI REZEKI

Diantara nama Allah Subhanalahu wa ta'ala adalah Ar-Rozak yang artinya yang maha memberi rezeki. Allah Subhanahu wa ta'ala menciptakan makhluk dan memberikan rezeki kepada mereka dan Allah Subhanahu wa ta'ala telah menuliskan rezeki makhluknya jauh sebelum Allah menciptakan makhluknya itu.

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Allah telah menulis takdir bagi makhluk-makhluknya 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi." (HR. Muslim dari Abdulah Ibnu Amir).

Allah Subhanahu wa ta'ala menciptakan rezeki tersebut dan menyampaikannya kepada makhluk dengan waktu yang sudah Allah Subhanahu wa ta'ala tentukan sebelumnya, maka tidak akan meninggal seseorang sampai dia mendapatkan rezeki terakhir yang menjadi jatahnya. Meskipun rezeki tersebut ada di puncak gunung atau bahkan ada di bawah lautan.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا

"Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya." (11. Hud : 6).

Siapa sesembahan selain Allah yang bisa melakukan demikian?

Adakah sesembahan selain Allah Subhanahu wa ta'ala yang bisa memberi makan sekali saja untuk seluruh makhluk yang ada di bumi ini? Mulai dari manusia, jin, hewan dan tumbuhan.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

"Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada mu dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan selain Dia, maka mengapa kamu berpaling (dari ketahidan)?" (35. Fatir : 3). 

 

I.2. Mengenal Allah Sebagai Pencipta

MENGENAL ALLAH SEBAGAI PENCIPTA

Allah Subhanahu wa ta'ala adalah zat yang maha pencipta, menctiptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dialah Allah Subhanahu wa ta'ala yang telah menciptakan langit, dan menciptakan seluruh alam semesta.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

"Demikianlah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu." (40. Ghofir : 62). 

Dialah Allah Subhanahu wa ta'ala, Al-Kholiq yang maha pencipta, sedangkan selain Allah adalah makhluk atau yang diciptakan mereka tidak bisa mencipta meskipun diagung-agungkan dan disembah oleh manusia.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ

"Wahai manusia! telah dibuat suatu perumpamaan maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalatpun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya...." (22. Al-Hajj : 73).

Berkumpul dan berkerjasama saja mereka tidak akan mampu untuk menciptakan seekor lalat dan apalagi jika mereka hanya sendirian.

Menciptakan seekor lalat yang sedemikian sederhana susunan tubuhnya saja mereka tidak mampu, maka bagaimana mereka bisa mencipta makhluk yang lebih rumit dari lalat.

Seorang muslim wajib mempercayai bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala adalah satu-satunya pencipta dan tidak ada pencipta selain Allah Subhanahu wa ta'ala.

Barangsiapa yang meyakini bahwa ada pencipta selain Allah Subhanahu wa ta'ala maka dia telah melakukan syirik besar. 

 

I.1. Pentingnya Mengenal Allah, Rosul dan Agama Islam

 PENTINGNYA MENGENAL ALLAH, ROSUL DAN AGAM ISLAM

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa setiap manusia apabila meninggal dunia maka di alam kubur akan ditanya oleh dua malaikat tentang 3 perkara yaitu "Siapa tuhanmu?", "Siapa Nabimu?", dan "Apa agamamu?".

Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim dan muslimah untuk mempersiapkan diri terkait tiga perkara tersebut.

Perlu diketahui bahwa untuk menjawab 3 perkara tersebut tidak cukup hanya dengan menghafal sebab seandainya menghafal itu cukup niscaya orang munafikpun bisa menjawab pertanyaan, tetapi yang dituntut adalah pemahaman dan juga pengamalan. Barangsiapa ketika di dunia mengenal Allah Subhanahu wa ta'ala dan memenuhi haknya, mengenal Nabu Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan memenuhi haknya. Serta megenal agama Islam serta mengamalkan isinya maka diharapkan dia bisa menjawab pertanyaan dengan baik hingga memperoleh kenikmatan di dalam kabarnya. Namun apabila dia tidak mengenal siapa Allah Subhanahu wa ta'ala dan tidak memenuhi haknya, tidak mengenal Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan tidak memenuhi haknya, serta tidak mengenal atau kurang mengetahui ajaran agama Islam dan tidak mengamalkannya. Maka ditakutkan dia tidak dapat menjawabnya sehingga siksa kubur yang akan dia dapatkan.

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala memudahkan kita, keluarga kita dan orang-orang yang kita cintai bisa mengenal Allah Subhanahu wa ta'ala, mengenal Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam.

V.25. Ridho Dengan Hukum Allah

 RIDHO DENGAN HUKUM ALLAH

Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai pencipta manusia sangat menyayangi ciptaannya. Dialah Ar-Rahman Ar-Rahim. Diantara bentuk kasih sayang Allah adalah menurunkan syari'at, supaya manusia medapatkan kebahagiaan dan terhindar dari kesusahan di dunia dan akhirat. Dialah yang maha mengetahui dan maha bijakasana penuh dengan keadilan hikmah dan kebaikkan meskipun kadang samar atas sebagian manusia.

Menjadi keharusan bagi seorang muslim dan muslimah untuk ridho dengan hukum Allah dan yakin bahwa kebaikkan dan semuanya dalam hukum Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam segala baik kehidupan aqidah, akhlak kehidupan, adab, mua'malah, ekonomi, kenegaraan dan lain-lain.

Mengesakan Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam hukum-hukumnya adalah termasuk konsekuensi tauhid.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin apabila Allah dan Rosulnya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urus mereka." (36. Al-Ahzab : 36).

 

 

Minggu, 30 Oktober 2022

V.24. Menyandarkan Kenikmatan Kapada Allah

MENYANDARKAN KENIKMATAN KEPADA ALLAH

Termasuk keyakinan yang harus selalu diingat oleh setiap muslim adalah bahwa setiap kenikmatan dengan segala jenisnya adalah berasal dari Allah Subhanahu wa ta'ala.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

"Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah." (16. An-Nahl : 53).

Adalah termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allah Subhanahu wa ta'ala kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala seperti ungkapan: kalo pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka, kalau tidak ada  angsa niscaya uang kita sudah dicuri, kalau tidak ada dokter niscaya saya tidak sembuh dan sebagainya.

Ini semua contoh bagaimana menyandarkan kenikmatan kepada sebab.

Allah Subhanhu wa ta'ala:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا

"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya." (16. An-Nahl : 83).

Seharusnya kenikmatan tersebut disandarkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Zat yang menciptakan sebab yang seharusnya dikatakan adalaha: Kalau bukan karena Allah niscaya kita sudah celaka, atau kalau bukan karena Allah uang kita sudah hilang, atau kalau bukan karena Allah niscaya saya tidak akan sembuh dan sebagainya.

Yang demikian karena Allah-lah yang telah memberikan nikmat keselamatan, nikmat keamanan dan nikmat kesembuhan dan sebagainya. Sedangkan makhluk  hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita.

Kalau Allah Subhanahu wa ta'ala menghendaki niscaya Allah Subhanahu wa ta'ala tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita.

Ini semua bukan berarti seorang muslim tidak boleh berterimakasih pada orang lain.

Seorang muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terimakasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka telah menjadi kenikmatan tersebut bahkan diperintahkan pula untuk membalas kebaikkan tersebut dengan kebaikkan atau dengan doa yang baik.

Namun pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

V.23. Ta'at Ulama Dalam Kebenaran

TA'AT ULAMA DALAM KEBENARAN

Ulama adalah orang-orang  yang memiliki ilmu tentang Allah Subhanahu wa ta'ala dan juga agamanya yaitu ulama yang memabawa dirinya untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Para ulama adalah pewaris pewaris para nabi dan kedudukan mereka dalam agama islam adalah sangat tinggi. Allah Subhanahu wa ta'ala telah mengangkat derajat para ulama dan telah memerintahkan kita untuk ta'at kepada mereka selama mereka menyeru  dan mengajak kepada kebenaran dan juga kebaikkan.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul dan ulil amri (pemegang kebenaran) diantara kamu..." ( 4. An-Nisa' : 59 ).

Ulil amri di sini mencakup ulama dan juga umaro atau pemerintah.

Menghormati ulama bukan berarti menaati mereka di dalam segala hal sampai kepada kemaksiatan. Ulama seperti manusia yang lain, ijtihad mereka terkadang salah dan terkadang benar, kalau benar mereka mendapatkan 2 pahala dan kalau salah mereka mendapatkan 1 pahala.

Apabila telah jelas kebenaran bagi seorang muslim dan jelas bahwa seorang ulama menyelisihi kebenaran tersebut dalam sebuah permasalahan, maka tidak boleh seseorang mena'ati ulama tersebut dan kemudian dia meninggalkan kebenaran.

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah, keta'atan hanya di dalam kebenaran." ( HR Al-Bukhari dan Muslim ).

Apabila seseorang mena'ati ulama dalam kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, maka dia telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syariat dan bukan penyampai syariat. Ini seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam firmannya:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

 "Mereka menjadikan orang-orang  alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah..." ( 9. At-Taubah : 31 ).

Ketika menjelaskan ayat ini rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepada para ulama dan ahli ibadah tersebut akan tetapi mereka apabila menghalalkan apa yang Allah haramkan maka merekapun ikut menghalalkan dan apabila ulama dan ahli ibadah tersebut mengharapkan apa yang Allah halalkan maka merekapun ikut mengharamkan." ( HR At-Tarmidzi dari Adi bin Halim dan dihasankan oleh syekh Al-Albani RH). 

Sabtu, 29 Oktober 2022

V.22. Takut Kepada Allah

 TAKUT KEPADA ALLAH

Diantara keyakinan seorang muslim adalah bahwa manfaat dan mudhorat hanya ditangan Allah Subhanahu wa ta'ala semata. Seorang muslim tidak takut kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya kepada merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala mengagungkannya dan membawanya untuk menjauhi larangan Allah Subhanahu wa ta'ala dan melaksanakan perintahnya.

Bukan takut yang berlebihan yang membawa kepada keputusan terhadap rahmat Allah Subhanahu wa ta'ala dan juga bukan takut yang terlalu tipis yang tidak membawa kepada ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Takut seperti ini adalah ibadah dan tidak boleh sekali-kali seorang muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala.

Barangsiapa menyerahkannya kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala maka dia telah terjerumus kedalam syirik besar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.

Misalnya orang yang takut kepada mudhorat wali Fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri dihadapan kuburannya dan kemudian mengagungkannya.

Hendaknya seorang muslim meneladani nabi Ibrahim ketika beliau berkata:

وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا

"Aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudhoroti ku kecuali Allah menghendaki." (6. Al-An'am : 80).

Diantara takut yang diharamkan adalah takutnya seseorang kepada makhluk melebihi takutnya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala atau melanggar larangan Allah Subhanahu wa ta'ala.

Seperti orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir atau tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Sesungguhnya mereka adalah syetan yang menakuti-nakuti kamu dengan teman-teman setianyam, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada ku jika kamu orang-orang beriman." (Ali Imron : 175).

Cara menghilangkan rasa takut kepada makhluk yang diharamkan adalah berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dari bisikan syetan dan mengingat sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:

"Ketahuilah bahwa seandainya umat semuanya berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan kepada mu, niscaya mereka tidak bisa memberi mudhorot kepada mu kecuali dengan apa yang sudah Allah Subhanahu wa ta'ala tulis." (HR. At Tarmidzi dan disohihkan oleh syeeh Al Albani RH).

Diperbolehkan takut yang merupakan tabi'at manusia seperti takut kepada panasnya api, binatang buas dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukanlah takut yang membawa seseorang meninggalkan perintah ataupun melanggar larangan Allah Subhanahu wa ta'ala. Ini adalah takut merupakan tabi'at yang para nabipun telah terlepas darinya. 

 

 

 

Jumat, 28 Oktober 2022

V.21. Cinta Kepada Allah

 CINTA KEPADA ALLAH

Mencintai Allah Subhanahu wa ta'ala merupakan ibadah yang agung. Cinta yang merupakan ibadah ini mengharuskan seorang muslim merendahkan dirinya dihadapan Allah Subhanahu wa ta'ala, mengagungkan Allah Subhanahu wa ta'ala dan akhirnya akan membawa seseorang melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dan menjauhi larangan Allah Subhanahu wa ta'ala.

Inilah cinta yang merupakan ibadah.

Barangsiapa yang menyerahkan cinta seperti ini kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala maka dia telah perbuat syirik yang besar.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّ

"Dan diantara manusia ada yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai sekutu-sekutu Allah, dan mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman cinta mereka kepada Allah jauh lebih besar."(2. Al-Baqoroh : 165).

Adapun cinta yang merupakan tabi'at manusia seperti cinta keluarga, harta, pekerjaan dan lain-lain, hal ini diperbolehkan selama tidak melebihi cinta kita kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Apabila seseorang mencintai perkara-perkara tersebut melebihi cintanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, maka dia telah melakukan dosa besar.

 Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

"Katakanlah jika bapak-bapak kalian, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan rosulnya serta bejihad di jalannya maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (9. At-Taubah : 24).

 Ketika terjadi pertetangan antara dua kecintaan maka akan nampak siapa yang lebih dia cintai, dan akan nampak siapa yang cintanya benar dan siapa yang cintanya hanya sebatas ucapan saja.

Diantara cara memupuk rasa cinta kita kepada Allah adalah dengan mentaburi atau memperhatikan ayat-ayat Al-Qur'an dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa ta'ala di alam semesta, demikian pula dengan cara mengingat-ngingat berbagai kenikmatan yang telah Allah Sbuhanahu wa ta'ala berikan.

IV.20. Riya'

 RIYA'

Riya' adalah seseorang mengamalkan ibadah bukan karena ingin pahala dari Allah Subhanahu wa ta'ala akan tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji.

Riya' hukumnya haram dan termasuk syirik kecil yang samar yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

Riya' adalah sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang, bagaimanapun besar amalan tersebut.

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Allah berfirman, aku adalah zat yang paing tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dan dia menyekutukan aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut, dan aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikkannya." (HR Muslim).

Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Artinya dia harus diazab sampai bersih dari dosa Riya' tersebut.

Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa ta'ala, yang kalau Allah Subhanahu wa ta'ala menghendakki maka akan diampuni langsung dan kalau Allah Subhanahu wa ta'ala menghendakai akan diazab terlebih dahulu. Mereka berdalil dengan keumuman ayat:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki." (4. An-Nisa : 48).

Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka. Mereka bukanlah preman-preman di jalan, atau para pembunuh yang kejam, tapi mereka adalah orang-orang yang beramal sholeh, mereka adalah orang-orang yang mengajarkan Al-Qur'an supaya dikatakan sebagai seorang Qori', seorang yag suka membaca Al-Qur'an, atau seorang yang mahir membaca Al-Qur'an.

Dan juga orang yang berinfak supaya dikatakan sebagai orang yang dermawan dan orang yang berjihad supaya dikatakan pemberani.

Mereka beramal bukan karena Allah Subhanahu wa ta'ala sebagaimana hal ini digambarkan oleh nabi Shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits yang sohih yang diriwayatkan oleh At-Tarmidzi.

Oleh karena itu saudara sekalian ikhlas lah dalam beramal dan ikhlas adalah barang yang sangat berharga. Para salaf kita pun merasa atau merasakan betapa beratnya memperbaiki hati mereka.

Hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala kita meminta keikhlasan di dalam beramal, menjauhkan kita dari Riya', Sum'ah, dan ujub dan berbagai penyakit hati dan matilah kita membiasakan untuk menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada maslahat yang lebih kuat. 

Kamis, 27 Oktober 2022

IV.19. Bersumpah dengan Selain Allah

 BERSUMPAH DENGAN SELAIN NAMA ALLAH

Sumpah adalah menguatkan perkataan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan baik oleh yang berbicara maupun yang diajak biacara.

Kalau bahasa Arab maka menggunakan huruf  "و " atau "ب " atau "ت " dan kalam dalam bahasa Indonesia menggunakan kata "demi".

Bersumpah hanya diperbolehkan dengan menggunakan nama Allah Subhanahu wa ta'ala saja misal dengan menyebutkan "wallahi" demi rob yang menciptakan langit dan bumi, demi zat yang jiwaku berada di tangannya dan lain-lain.

Adapun makhluk bagamianapun agungnya di mata manusia maka tidak boleh kita bersumpah dengan namanya. Misalnya dengan mengatakan Demi Rosulullah, demi Ka'bah, demi langit dan bumi, demi bulan dan bintang dan lain-lain, ini semua termasuk pengagungannya terhadap makhluk yang di haramkan.

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah berbuat syirik." (HR. Abu Dawud dan Attarmidzi dan disohihkan oleh syeeh Al-Albani RH).

Syirik dalam hadits ini pada asalnya adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, namun bisa sampai kepada syirik besar apabila dia mengucapkan sumpah dengan makhluk disertai pengagungannya  seperti dia mengagungkan Allah Subhanahu wa ta'ala.

Seperti yang dilakukan orang-orang musyrik dengan menyatakan demi Wisnu, atau demi dewa Fulan atau demi Latta dan lain-lain.

Rabu, 26 Oktober 2022

IV.18. Meramal Nasib Dengan Bintang

 MERAMAL NASIB DENGAN BINTANG

Bintang adalah makhluk yang menunjukkan kebesaran Allah Subhnahu wa ta'ala penciptanya.

Allah Subhanahu wa ta'ala telah mengabarkan di dalam Al-Qur'an bahwa bintang ini memiliki 3 faedah yaitu sebagai berikut:

  1. Perhiasan langit.
  2. Pelempar syaitan.
  3. Sebagai petunjuk manusia seperti mengetahui arah Utara-Selatan, atau mengetahui arah daerah atau arah qiblat, atau mengetahui kapan masa menananm, musim hujan dan lain-lain.

Allah Subhanahu wa ta'ala tidak menciptakan bintang untuk perkara yang lain selain 3 perkara di atas.

Seorang salaf Qotadah bin Di'amah As-Salutsi Rh. seorang ulama yang meninggal kurang lebih tahun 110 H beliau menjelaskan bahwa barang siapa yang meyakini bintang mempunyai faedah yang lain selain 3 hal di atas maka dia telah bersalah dan berbicara tanpa ilmu. Ucapan ini dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari  di dalam sohih beliau. Contohnya adalah meyakini bahwa terbit dan tenggelamnya bintang atau berkumpul dan berpisahnya beberapa bintang berpengaruh kepada keberuntungan seseorang dimasa Yad.

Bahkan dalam masalah rezeki, jodoh dan lain-lain sebagaimana kolom yang ditemukan di beberapa koran dan majalah, membaca dan mempercayai hal seperti itu  adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar.

Sebagian ulama mengatakan hukumnya sama seperti orang yang mendatangi dukun, dan bertanya kepadanya yaitu tidak diterima sholatnya selama 40 hari.

Hendaknya kita semua takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan jangan sekali-kali mencoba membaca kolom-kolom tersebut serta jangan pula memasukkannya ke dalam rumah-rumah kita. Kita tutup segala pintu yang bisa merusak aqidah kita. Karena aqidah merupakan modal kita untuk dapat memasuki surga Allah Subhanahu wa ta'ala dengan selamat.

IV.17. At-Tathoyur = Merasa Sial Dengan Sesuatu

 AT-TATHOYUR = MERASA SIAL DENGAN SESUATU

At-Tathoyur adalah merasa akan bernasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu seperti melihat tabrakan, atau orang berkelahi atau semisalnya. Dan hal tersebut menyebabkan ia tidak jadi melaksanakan hajatnya seperti berpergian, berdagang dan lain-lain.

At-Tathoyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut diikuti.

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Siapa yang At-Thiyaroh menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad dan disahihkan oleh syeeh Al Albani RH).

Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini dinafikan dan diingkari oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Beliau bersabda:

"dan tidak ada thiyaroh." (HR. Bukhari dan Muslim disahihkan oleh syeeh Al Albani RH).

Maksudnya ialah, bahwa thiyaroh ini hanyalah sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengarih terhadap takdir  Allah Subhanahu wa ta'ala.

Oleh karena itu seorang muslim tidak boleh mengikuti was-was syetan ini dan hendaklah dia memiliki keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik itu berupa kebaikan ataupun keburukkan hanya akan terjadi karena takdir Allah Subhanahu wa ta'ala.

Seorang mukmin hendaknya yakin bahwa tidak ada yang mendatangkan kebaikkan kecuali Allah Subhanahu wa ta'ala dan tidak melindungi dari keburukan keuali Allah Subhanahu wa ta'ala.

Hendaklah bertawakal kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan berbaik sangka hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Apabila datang perasaan was-was tersebut hendaklah dihilangkan dengan perasaan tawakal dan tetaplah ia melaksanakan hajatnya dan apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allah Subhanahu wa ta'ala semata.

Adapun At-Tafa'ul adalah diperbolehkan dalam agama kita.

Tafa'ul artinya adalah berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa ta'ala karena melihat atau mendengar sesuatu.

Dahulu Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam sering bertafa'ul seperti ketika terjadi pernjanjian Hudaubyah utusan Quraisy saat itu bernama Suhail, sedang Suhail adalah bentuk pengecilan dari Sahl yang artinya adalah mudah, maka beliaupun berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa ta'ala bahwa perajanjian ini akan membawa kemudahan dan kebaikan bagi umat Islam. Maka benarlah persangkaan beliau Shallallahu alaihi wasallam karena setelah itu, setelah perjanjian Hudaibyah terbukalah pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.

Selasa, 25 Oktober 2022

IV.16. Perdukunan

 PERDUKUNAN

Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghaib, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia seperti mengetahui barang yang hilang dan pencurinya mengetahui ramalan nasib dan lain-lain.

Mengaku mengetahui hal-hal tersebut dengan syarat-syarat tertentu seperti dengan melihat bintang, menggaris di tanah, melihat air di mangkok.

Dengan cara ini para dukun memakan harta meminta.

Perdukunan dengan namanya yang bermacam-macam adalah diharamkan dalam agama Islam. Ilmu Ghoib yang mereka akui pada hakekatnya adalah kabar dari jin yang mereka mintai bantuan. Sedangkan syarat-syarat tersebut hanyalah untuk menutupi kedoknya sebagai seseorang yang meminta bantuan jin dan juga syetan.

Kita sudah mengetahui bersama bahwa Iblis sudah berjanji akan menyesatkan manusia dan menyeret mereka bersama dia kedalam neraka. Iblis dan keturunannya tidak akan membantu sang dukun kecuali apabila dukun tersebut kafir kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Oleh karena itu para ulama menghukumi dukun sebagai orang yang kafir dengan sebab ini.

Adapun harta yang dia dapatkan dari pekerjaan ini adalah harta yang haram.

Berkaitan dengan ramalan yang kadang benar, maka sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi Shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits yang sohih bahwa para jin bekerja sama untuk mencuri kabar dari langit. Apabila mendengar sesuatu maka jin yang di atas akan mengabarkan kepada jin yang di bawahnya dan seterusnya, sehingga sampai ketelinga dukun.

Terkadang jin itu terkena lemparan bintang sebelum menyampaikan kabar yang ia dengar, terkadang sempat menyampaikan kepada jin yang dibawahnya sebelum akhirnya terkena lemparan bintang. Namun kabar yang sedikit ini akan ditambah-tambah oleh sang dukun dengan kedustaan-kedustaan yang banyak apa yang telak terjadi sesuai yang dia kabarkan untuk dijadikan alat pembenaran dan menarik kepercayaan dari manusia.

Orang Islam dilarang sekali-kali datang kedukun dengan maksud meminta bantuan dari dukun tersebut bagaimanapun susahnya keadaan dia.

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun kemudian membenarkan apa yang disampaikannya maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu alaihi wasallam" (HR. Abu Dawud Attarnidzi dab Ibnu Majah dan disohihkan oleh Syeeh Al Albani RH).

Dalam hadits lain beliau Shallallahu alaihi wasallam mengatakan:

"Barangsiapa mendatangi dukun kemudiann bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak diterima darinya sholat selama 40 hari." (HR. Muslim).

Meskipun sebagian ulama mengatakan bahwa mendatangi dukun tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam, namun hadits diatas cukup menunjukkan besarnya dosa orang mendatangi dukun. 

 

III.15. Sihir

 SIHIR

Sihir bermacam-macam jenisnya sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada setan. Padahal syetan tidak akan memberikan pertolongan kecuali setelah perkara yang dia redhoi yaitu kufur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan menyerahkan sebagian ibadah kepada syetan tersebut atau dengan menghina Al-Qur'an, agama dan sebagainya.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

"Dan bukanlah Sulaiman yang kafir, tapi syetan-syetan lah yang kafir mereka mengajarkan sihir kepada manusia." (2. Al-Baqoroh : 102).

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Jauhilah 7 perkara yang membinasakan. Para sahabat bertanya: ya Rosulullah apakah 7 perkara tersebut? maka beliau Shallallahu alaihi wasallam menyebutkan 7 perkara tersebut yaitu:

  1.  Syirik kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

                2. Sihir." (HR. Bukhori dan Muslim).

Hukuman bagi para penyihir jenis ini adalah hukuman mati bila dia tidak bertobat sebagai mana telah dicontohkan oleh para sahabat nabi Shallallahu alaihi wasallam. Adapun yang berhak melakukan hukuman tersebut adalah pemerintah yang sah bukan individu-individu.

Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan. Bahkan sebagai ulama menhukumi pelakunya keluar dari Islam.

Dan meminta supaya disihirkan juga merupakan perbuatan yang haram karena Rusulullah Shallallahu alaihi wasallam mengabarkan "bahwa bukan termasuk pengikut beliau orang yang menyihir dan meminta disihirkan." Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Al Badzar di dalam musnadnya dan dishohihkan oleh Albani RH.

Seorang muslim hendaklah mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir diantaranya dengan menjaga zikir-zikir yang disyariatkan, seperti zikir pagi dan petang, zikir setelah sholat 5 waktu, zikir ketika akan tidur, akan makan, zikir ketika masuk rumah, keluar rumah, masuk wc dan keluar wc dan lain-lain.

Selain itu juga hendaklah membersihkan diri dan rumah dari hal-hal yang membuat redho syetan seperti jimat-jimat, musik-musik, gambar-gambar makhluk bernyawa dan lain-lain.

Apabila qodarullah terkena sihir, maka hendaknya bersabar, merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, memohon darinya kesembuhandan berpegang dengan ruqyah-ruqyah yang disyariatkan dan jangan sekali-kali berusaha menghilangkan sihir dengan meminta bantuan kepada jin, baik secara langsung maupun melalui jasa paranormal dan yang semisal dengan mereka.

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala melindungi kita dari semua kejelekkan didunia dan diakhirat.

Senin, 24 Oktober 2022

III.14. Berlebihan Terhadap Orang Sholeh Pintu Kesyirikan

 BERLEBIHAN TERHADAP ORANG SHOLEH PINTU KESYIRIKAN

Orang tersebut adalah orang yang baik karena mengikuti syariat Allah Subhanahu wa ta'ala baik dalam hal aqidah, ibadah maupun mu'amalah. Mereka memiliki derajat yang berbeda-beda disisi Allah Subhanahu wa ta'ala.

Sebagai seseorang muslim kita diperintahkan untuk mencintai merekam, kira juga diperintahkan untuk mengikuti jejak mereka dalam kebaikan. Berteman dan bermajelis dengan mereka adalah sebuah keberuntungan, membaca perjalanan hidup mereka bisa menambah keimanan dan meneguhkan hati.

Menghormati mereka adalah diperintahkan selama masih dalam batas-batas yang diizinkan agama.

Namun berlebih-lebihan terhadap orang seperti mendudukan mereka diatas kedudukannya sebagai manusia, atau menyifati mereka dengan sifat-sifat yang tidak pantas kecuali untuk Allah Subhanahu wa ta'ala, maka itu hukumnya haram dan tidak diperbolehkan menurut agama, karena hal ini dapat menjadi pintu terjadinya kesyirikan dan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala.

Mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melebihi cinta kita kepada anak dan kedua orang tua adalah sebuah kewajiban agama sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

"Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dia cintai dari orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia."

Namun beliau Shallallahu alaihi wasallam melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau Shallallahu alaihi wasallam, yaitu mendudukan beliau diatas kedudukan beliau yang sebenarnya sebagai hamba Allah Subhanahu wa ta'ala dan rosulnya.

Beliau Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا تُـطْـرُوْنِـيْ كَمَـا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَـرْيَمَ، فَإِنَّمَـا أَنَـا عَبْدُهُ، فَـقُوْلُوْا عَبْـدُ اللّـهِ وَرَسُوْلُـهُ

 "Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang nasrani berlebih-lebihan kepada Isa Ibnu Maryam, sesungguhnya aku adalah hambanya, maka katakanlah hamba Allah dan Rosulnya." (HR. Al Bukhari).

Beliau adalah seorang hamba, maka tidak boleh disembah. Dan beliau adalah seorang rosul, maka tidak boleh dicela dan diselisihi.

Apabila berlebih-lebihan terhadap sebaik-baiknya manusia saja yaitu rosulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak diperbolehkan, maka bagaimana dengan yang lain.

Diantara bentuk ghuluw terhadap orang-orang sholeh adalah meyakini bahwa mereka mengetahui ilmu ghoib, atau membangun sesuatu diatas kuburan mereka, atau beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala disamping kuburan mereka dan lain-lain. Dan yang paling parah adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka. Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran.

III.13. Syafa'at

 SYAFA'AT

Syafaat adalah meminta kebaikan bagi orang lain di bumi maupun di akhirat.

Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Al-Qur'an telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafaat pada hari kiamat. Diantara bentuknya adalah bahwasannya Allah Subhanahu wa ta'ala mengampuni dosa seorang muslim dengan perantara do'a orang yang telah Allah Subhanahu wa ta'ala izinkan untuk memberikan syafa'at.

Syafa'at akhirat harus kita imani dan kita harus berusha untuk meraihnya. Adapun modal utama untuk meraihnya adalah bertauhid dan bersihnya seseorang dari kesyirikan.

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika beliau mengabarkan tentang bahwasannya beliau memiliki syafa'at pada hari kiamat;

فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

"Syafaat itu akan didapatkan insya'Allah oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa ta'ala sedikitpun."(HR. Muslim).

Merekalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa ta'ala redho kerena ketauhidan yang mereka miliki. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ

"dan mereka yaitu para nabi dan para malaikat tidak memberikan syafa'at kecuali orang-orang yang Allah ridhoi."(21. Al-Anbiya : 28).

Syafaat di akhirat ini berbeda dengan syafa'at di dunia, karena seseorang tidak dapat memberikan syafa'at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan Allah Subhanahu wa ta'ala sampai meskipun ia adalah seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

"tidaklah ada yang memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izinnya" (2. Al-Baqoroh : 255).

Oleh karena itu permintaan syafaat hanya di tujukan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala zat yang memilikinya, seperti dalam do'a; "Ya Allah aku meminta syafaat nabimu".

Inilah cara meminta syafaat yang diperbolehkan bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad seperti mengatakan: "ya Rosulullah, berilah aku syafaat mu" atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafa'atnya. Cara seperti ini adalah seperti cara yang dilakukan orang-orang muslim zaman dahulu

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴿ ١٨

"Dan mereka menyembah kepada selain Allah sesuatu yang tidak memudhorati mereka dan tidak pula memberikan manfa'at dan mereka berkata mereka adalah pemeberi syafaat bagi kami di sisi Allah. Katakanlah Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allah sesuatu yang tidak Allah ketahui di langit dan di bumi? Maha suci Allah dan maha tinggi dari apa yang mereka sekutukan." (10. Yunus : 18). 

III.12. Berdoa Kepada Selain Allah Termasuk Syirik Besar

 BERDOA KEPADA SELAIN ALLAH TERMASUK SYIRIK BESAR

Berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala adalah seseorang mengharap Allah dengan maksud supaya Allah Subhanahu wa ta'ala mewujudkan keinginannya baik dengan meminta atau merendahkan diri dan takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Berdoa dengan makna diatas adalah ibadah.

Berkata Anu'man Ibnu Basyir RA. aku mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

"Do'a adalah ibadah"(HR. Tirmidzi) kemudian beliau Shallallahu alaihi wasallam membaca ayat:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴿ ٦٠

"Berdoalah kalian kepada ku niscaya aku kabulkan kalian, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepadaku, mereka akan masuk ke neraka jahannam dalam keadaan terhina"(40. Gafir : 60). (HR. Abu Dawud, At Tarmidzi dan Ibnu Majah dan dishohihkan oleh syeeh Al Albani RH).

Dan makna "beribadah kepadaku" dalam ayat ini adalah berdo'a kepadaku.

Apabila doa merupakan ibadah yang merupakan hak Allah Subhanahu wa ta'ala, maka berdo'a kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala dengan merendahkan diri dihadapannya, mengharap dan juga takut kepadanya sebagaimana ketika dia mengharap dan takut kepada Allah Subhanahu wa ta'ala adalah termasuk syirik besar.

Termasuk jenis do'a adalah istighosah yaitu meminta dilepaskan dari kesesusahan.

Isti'adzah = meminta perlindungan

Isti'ana = meminta pertolongan

Apabila di dalamnya ada berendah diri, pengharapan dan takut, maka ini adalah ibadah yang hanya boleh diserahkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala semata.

Namun perlu diketahui bahwa boleh seseorang beristighosah, beristi'adzah dan beristi'ana dengan 4 syarat berikut:

  1. Makhluk tersebut masih hidup.
  2. Dia berada di hadapan kita dan bisa mendengar ucapan kita.
  3. Dia mampu sebagai makhluk untuk melakukannya.
  4. Makhluk tersebut diyakini hanya sebagai sebab tidak boleh bertawakal kepada sebab tersebut, akan tetapi bertawakal kepada Allah Subhanahu wa ta'ala yang menciptakan sebab tersebut.
Orang yang beristighosah, beristi'adzah, dan beristi'anah kepada orang yang sudah mati atau kepada orang yang masih hidup tapi tidak berada dihadapan kita, atau tidak bisa mendengar ucapan kita atau meminta kepada makhluk perkara yang tidak mungkin bisa melakukannya selain Allah Subhanahu wa ta'ala maka ini termasuk syirik besar.

III.11. Ar Ruqyah (Jampi-Jampi)

AR RUQYAH (JAMPI-JAMPI)

Ar ruqyah (jampi-jampi) adalah bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit supaya sembuh. Bacaan ini diperbolehkan selama tidak ada kesyirikkannya.

Diriwayatkan oleh A'uf bin Malik RA, beliau berkata kami dahulu meruqyah di zaman jahiliyah maka kami bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam; ya Rosulullah, apa pendapatmu tentang Ruqyah ini.

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ، لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ.

"Perlihatkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian, sesungguhnya ruqyah tidak mengapa selama tidak ada kesyirikan."(HR. Muslim).

Ruqyah-ruqyah yang tidak ada kesyirikan adalah seperti ruqyah dari ayat-ayat Al-Qur'an, dari doa-doa yang diajarkan nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan ini lebih utama. Atau dari doa-doa yang lain yang diketahui kebenaran maknanya baik dalam bahasa Arab ataupun dalam bahasa lainnya. Kemudian hendaknya orang yang meruqyah ataupun yang diruqyah meyakini bahwasannya ruqyah hanyalah sebab semata tidak berpengaruh dengan sendirinya, dan tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut.

Seorang muslim mengambil sebab dan bertawakal kepada zat yang menciptakan sebab tersebut yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala.

Ruqyah yang mengandung kesyirikan adalah jampi-jampi ayat bacaan yang mengandung permohonan kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala, baik kepada jin, wali atau selainnya biasanya disebutkan disitu nama-nama mereka.

Tidak jarang jampi-jampi seperti ini dicampur dengan ayat Al-Qur'an atau nama-nama Allah Subhanahu wa ta'ala atau dengan kalimat yang berasal dari bahasa Arab dengan tujuan untuk mengelabui orang-orang yang jahil dan tidak tahu.

Ruqyah yang mengandung kesyirikan telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau:

إنَّ الرُّقى، والتَّمائمَ، والتِّوَلةَ شِركٌ

"Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan pelet adalah syirik." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah dan disohehkan oleh Syekh Al Albani Rh). 

Sabtu, 22 Oktober 2022

II.10. Termasuk Syirik Bernadzar untuk Selain Allah

 TERMASUK SYIRIK BERNADZAR UNTUK SELAIN ALLAH

Bernadzar untuk Allah Subhanahu wa ta'ala adalah seseorang yang mengatakan wajib bagi saya untuk melakukan ibadah ini dan itu untuk Allah Subahanahu wa ta'ala. Atau dengan mengatakan misalnya saya bernadzar untuk Allah Subhanahu wa ta'ala jika terlakasana hajat saya.

Bernadzar adalah ibadah dan suatu bentuk pengagungan karenanya bernadzar tidak diperkenankan kecuali untuk Allah Subhanahu wa ta'ala semata, seperti seseorang yang mengatakan bernadzar utuk berpuasa 1 hari untuk Allah Subhanahu wa ta'ala jika lulus ujian atau bernadzar untuk Allah Subhanahu wa ta'ala untuk melakukan umroh bila ia sembuh dari penyakit dan lain-lain.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ نَّفَقَةٍ اَوْ نَذَرْتُمْ مِّنْ نَّذْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُهٗ ۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ٢٧٠

"Dan apa yang kalian infakan dan apa yang kalian nadzarkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang zolim." (2. Al-Baqoroh : 270).

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta'ala mengabarkan bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala mengetahui nadzar para hambanya dan akan membalas dengan balasan yang baik ini menunjukkan bahwa nadzar adalah ibadah yang seorang muslim akan diberikan pahala atas nadzar tersebut.

Menunaikan nadzar apabila dalam ketaatan maka hukumnya adalah wajib berdasarkan firman Allah:

وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ

 "Dan supaya mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka." (22. Al-Haj : 29).

Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

"Barangsiapa yang bernadzar untuk menaati Allah maka hendaklah dia menaatinya dan barangsiapa bernadzar untuk memaksiati Allah maka jangan dia memaksiatinya." (HR. Albukhari)

Bernadzar untuk selain Allah Subhanahu wa ta'ala termasuk syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, seperti seseorang bernadzar apabila sembuh dari penyakit, maka ia akan menyembelih untuk wali fulan atau berpuasa untuk syekh fulan dan lain-lain. 

II.9. Termasuk Syirik Besar Menyembelih untuk Selain Allah

 TERMASUK SYIRIK BESAR MENYEMBELIH UNTUK SELAIN ALLAH

Menyembelih termasuk ibadah yang agung di dalam agam Islam, di dalam nya ada pengagungan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala rob semesta alam.

Diantara wujud cinta kepada Allah Subhanahu wa ta'ala adalah mengorbankan sebagian harta kita untuknya seperti ibadah Qurban di hari Raya Idul Adha, Aqiqah, Hadyu bagi sebagian jamaah haji.

Allah Subhanahu wa ta'ala telah memerintah kita melaksanakan ibadah ini hanya untuk-Nya semata.

Firman Allah Subhanahu wa ta'ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢

"Fashollili rabika wanhar"

"Maka sholatlah dan menyembelilah untuk tuhanmu." (108. Al-Kautsar : 2).

Barangsiapa yang menyerahkan ibadah menyembelih ini untuk selain Allah Subhanahu wa ta'ala dalam rangka mengagungkan dan mendekatkan diri kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala, baik kepada nabi, wali, jin dan sebagainya, maka dia telah terjatuh di dalam syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, membatalkan amalan dan terkena ancaman laknat dari Allah Subhanahu wa ta'ala.

Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

"Allah Subhanahu wa ta'ala melaknat seseorang yang menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wa ta'ala." (HR. Muslim).

makna Laknat adalah dijauhkan dari Rahmatnya.

Oleh karena itu janganlah sekali-kali kita sebagai seorang muslim berqurban dan menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wa ta'ala sedikitpun, meskipun hanya berupa seekor lalat dengan harapan mendapatkan manfaat atau terhindar dari mudhorat.

Sebagai seorang muslim kita harus yakin bahwa manfaat dan mudhorat hanyalah di tangan Allah Subhanahu wa ta'ala semata dan hanya kepadanyalah seorang muslim bertawakal. 

 

 

 

 

II.8. Bertabarruk (Mencari Berkah)

 BERTABARRUK (MENCARI BERKAH)

Barokah adalah banyaknya kebaikan dan langgengnya.  Allah Subhanahu wa ta'ala adalah zat yang berbarokah artinya zat banyak kebaikkannya.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ٥٤

"Tabarokallahu robbulalamin"

"Dialah Allah yang banyak barokahnya rob semesta alam." (7. Al-A'raf : 54).

Allah Subhanahu wa ta'ala jugalah zat yang memberikan kebarokahan atau kebaikan kepada sebagian makhluknya sehingga makhluk tersebut menjadi berbarokah dan banyak kebaikannya.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ ٩٦

"Sesungguhnya rumah yang pertama yang diletakkan bagi manusia untuk beribadah adalah rumah yang ada di Mekkah yang berbarokah dan petunjuk bagi seluruh alam." (3. Al-Imran : 96).

Ka'bah diberikan barokah oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, dan cara mendapatkan barokahnya adalah dengan cara melakukan ibadah disana.

Allah Subhanahu wa ta'ala juga berfirman:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ ٣

"Sesungguhnya telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam yang berbarokah, sesungguhnya Kami memberikan peringatan." (44. Ad-Dukhan : 3).

Malam Laillatul Qodr adalah malam yang berbarokah dan untuk mendapatkan barokah dan kebaikkannya adalah dengan beribadah di malam tersebut.

Seorang ulama bebarokah dengan ilmunya dan dakwahnya. Cara mendapatkan barokah dan kebaikkannya adalah dengan memimba ilmu darinya, disana ada barokah yang sifatnya zatiyah yaitu zatnya yang berbarokah -  dimana Barokah seperti ini bisa berpindah Barokah jenis ini hanya Allah Subhanahu wa ta'ala berikan kepada para nabi dan rosul. Oleh karena itu dahulu para sahabat nabi Shallallahu alaihi wasallam bertabarruk kepada bekas air wudhuk beliau, rambut beliau, keringat beliau dan lain-lain.

Sepeninggal beliau Shallallahu alaihi wasallam mereka tidak melakukannya terhadap Abu Bakar, Umar dan sahabat yang muda yag lain. Jadi ini menunjukkan kekhususan bagi para Nabi dan Rosul.

Meminta Barokah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan cara yang disyariatkan. Adapun meminta barokah dari Allah Subhanahu wa ta'ala dengan sebab yang tidak disyariatkan, seperti mengusap dinding mesjid tertentu, atau mengambil tanah kuburan tertentu dan lain-lain, maka ini termasuk syirik kecil.

Jumat, 21 Oktober 2022

II.7. "Termasuk Syirik Memakai Jimat"

 "TERMASUK SYIRIK MEMAKAI JIMAT"

Saudara ku, Allah Subhanahu wa ta'ala adalah zat yang memberikan manfaat dan mudhorat, kalau Allah Subhanahu wa ta'ala menghendaki untuk memberikan manfaat kepada seseorang maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya dan demikian pula sebaliknya ketika Allah Subhanahu wa ta'ala menghendaki untuk menimpakan musibah kepada seseorang maka tidak akan ada yang bisa menolaknya. Keyakinan tersebut melazimkan kita sebagai seorang muslim untuk bergabung sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala semata rasa cukup dengan Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam usaha mendapatkan manfaat dan menghindari mudhorat, seperti dalam mencari rezeki, mencari keselamatan, kesembuhan dari penyakit dan lain-lain. Serta tidak bergantung sekali-kali kepada yang dikeramatkan, seperti jimat, wafak, susuk yang sejenisnya.

Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

"Barangsiapa yang menggantungkan tamimah yaitu jimat dan yang semisalnya maka sungguh dia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad dan disahihkan Syekh Al Albani RH).

Apabila seseorang meyakini bahwa barang tersebut adalah sebab saja maka ia telah berbuat syirik kecil karena dia telah menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab, padahal yang berhak menentukan sesuatu itu sebagai sebab atau bukan adalah zat yang menciptakannya yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala.

Perlu diketahui bahwa dosa syirik kecil tidak bisa disepelekan, karena dosa syirik kecil tetap lebih besar dari dosa-dosa besar seperti dosa zinah, dosa membunuh dan lain-lain.

Kemudian apabila seseorang meyakini barang tersebut dengan sedirinya memberikan manfaat dan memberikan mudhorat, maka hal itu termasuk syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

 

II.6. Apa Itu Tauhid

 APA ITU TAUHID

Pengertian Tauhid secara bahasa adalah mengesakan, sedangkan perngertian Tauhid secara istilah adalah mengesakan Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam beribadah.

Seseorang tidak dinamakan bertauhid sehingga ia meninggalkan peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala seperti berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa ta'ala, bernadzar untuk selain Allah Subhanahu wa ta'ala, menyembelih untuk selain  Allah Subhanahu wa ta'ala, dan lain-lain.

Apabila seseorang beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan menyerahkan sebagian ibadah selain kepada Allah Subhanahu wa ta'ala siapapun dia, baik kepada seorang nabi, malaikat, atau selainnya maka inilah yang dinamakan dengan Syirik, yaitu menyekutukan Allah di dalam beribadah.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖٓ اِنَّنِيْ بَرَاۤءٌ مِّمَّا تَعْبُدُوْنَۙ ٢٦

اِلَّا الَّذِيْ فَطَرَنِيْ فَاِنَّهٗ سَيَهْدِيْنِ ٢٧

"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya sesungguhnya aku berlepas diri dari yang apa kalian sembah kecuali zat yang telah menciptakanku." (43. Az-Zukruf : 26-27).

Rassullullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله

"Barangsiapa yang mengatakan laa illha ilallah dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa ta'ala, maka haram harta dan darahnya (tidak boleh diganggu) dan perhitungannya atas Allah Subhanahu wa ta'ala" (HR. Muslim).

Oleh karena itu rukun kalimat Tauhid "laa illaha ilallah" ada 2 yaitu:

  1. Nafi atau pengingkaran yaitu kalimat laa illaha yang artinya tidak ada tuhan yang berhak disembah, ini adalah kalimat pengingkaran yakni mengingkari tuhan-tuhan selain Allah Subhanahu wa ta'ala.
  2. Itshbat yaitu penetapan pada kalimat "ilallah" yang artinya kecuali Allah Subhanahu wa ta'ala, ini adalah kalimat penetapan yakni menetapkan Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai satu-satunya sesembahan.

I.5. Bertobat dari Kesyirikan

 BERTOBAT DARI KESYIRIKAN

Orang yang berbuat syirik dan meninggal dunia sebelum bertobat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala maka dosa syiriknya tidak akan diampuni, namun apabila ia bertobat sebelum meninggal Allah Subhanahu wa ta'ala akan mengampuni dosanya bagaimanapun dosa tersebut.

Tobat nasuha adalah tobat yang terpenuhi 3 syarat didalamnya sebagai berikut:

  1. Meyesal
  2. Meninggalkan perbuatan tersebut
  3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi.

Firman Allah Subhanahu wa ta'ala:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٥٣

 "Katakanlah wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri dengan berbuat dosa janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya, sesungguhnya dia maha pengampunan lagi maha penyayang" (39. Az-Zumar : 53).

Rosullullah Shalallaahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لمَ ْيُغَرْغِرْ

"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta'ala menerima tobat seorang hamba selama ruh belum sampai ke kerongkongan." (HR. At Tarmidzi dan Ibn. Majah dari Abdullah Ibnu Umar dan dihasankan oleh Albani ).

Para sahabat nabi Shalallaahu Alaihi Wassalaam tidak semuanya lahir dalam keadaan Islam bahkan banyak yang baru masuk Islam ketika sudah besar dan sebelumnya bergelimang dengan kesyrikan. Supaya tidak terjerumus kembali ke dalam kesyirikan maka seseorang harus mempelajari Tauhid dan memahaminya dengan baik serta mengetahui jenis-jenis kesyirikan sehingga bisa menjauhinya. 

 

I.4. Syirik Membatalkan Amal

 SYIRIK MEMBATALKAN AMAL

Pernahkah anda kehilangan file data berharga anda hasil kerja keras berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-bertahun. Bagaimana perasaan anda saat itu? Seseorang akan berani membayar jutaan rupiah asal file-file tersebut bisa kembali.

Syirik adalah dosa besr yang bisa membatalkan amal seseorang.

Firman Allah Subhanahu wa ta'ala:

وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٦٥

بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ ٦٦

"Dan sungguh-sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan orang-orang sebelummu bahwa apabila kamu berbuat syirik maka sungguh apabila kamu berbuat syirik maka sungguh akan batal amalanmu, dan jadilah kamu temasuk orang-orang yang merugi, maka sembalah Allah saja dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (39. Az-Zumar : 65-66).

Dalam ayat ini disebutkan bahwa seorang nabipun akan batal amalannya apabila ia berbuat syirik, karena itu jagalah amalan yang telah anda tabung bertahun-tahun jangan biarkan amalan anda hilang begitu saja karena kejahilan anda terhadap tauhid dan syirik terkadang sebuah kegiatan yang kita anggap biasa bisa menghancurkan amalan sebesar gunung dan belum tentu ada waktu lagi untuk menabung kembali. 

 

I.3. Bahaya Kesyirikan

 BAHAYA KESYIRIKAN

Tauhid ---> Paling dicintai Allah Subhanahu wa ta'ala.
Syirik ---> Paling dibenci Allah Subhanahu wa ta'ala.

Allah Subhanahu wa ta'ala maha pengampun akan tetapi jika seseorang meninggal dunia dengan membawa syirik besar maka Allah Subhanahu wa ta'ala tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut. Akibatnya dia kekal di Neraka selama-lamanya dan tidak ada harapan baginya untuk masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa ta'ala. Ini adalah kerugian yang tidak ada kerugian yang lebih besar dari ini.

Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ٤٨

 "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah akan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehedakinya" (4. An-Nisa : 48).

Firman Allah:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ٧٢

"Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka Allah mengharamkan baginya Surga dan tempat kembalinya adalaha neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dzalim" (5. Al-Maidah : 72).

 Oleh karena itu berhati-hati lah terhadap dosa yang satu ini, terkadang seseorang terjerumus kedalamnya, sedangkan dia tidak menyadarinya. Bentengilah dirimu dengan perisai ilmu agama, belajarlah dan berdoalah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan sejujurnya. Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala melindungi diri kita dan keluarga kita dari perbuatan syirik. 

 

 

I.2. Tauhid Syarat Mutlak Masuk Surga

 TAUHID SYARAT MUTLAK MASUK SURGA

Orang yang menginginkan kebahagian di surga, maka dia harus memiliki modal yang satu ini yaitu Tauhid. Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bertauhid.

Orang yang bertauhid pasti akan masuk surga meskipun mungkin sebelumnya dia diazab terlebih dahulu di neraka karena dosa-dosanya.

Sabda Nabi:

من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمداً عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، والجنة حق،

والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل

"Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa ta'ala tidak ada sekutu baginya dan bersaksi bahwa Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam adalah  hambanya dan rosulnya dan bahwasannya Isa adalah hamba Allah Subhanahu wa ta'ala dan rosulnya dan kalimatnya yang ditiupkan kepada Maryam dan bersaksi bahwa Surga benar adanya dan Neraka benar adanya, maka Allah akan memasukkannya kedalam Surga bagaimanapun amalan yang dia telah amalkan."(Riwayat Bukhari dan Muslim).

Hadits yang lain:

فإن الله حرم على النار من قال: لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الل

 "Maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta'ala telah mengharamkan Neraka bagi orang-orang yang mengatakan Laillahailallah yang mengharap dengannya wajah Allah Subhanahu wa ta'ala."(HR. Al Bukhori dan Muslim).

Oleh karena itu tidak heran jika dakwah prioritas dari setiap rosul adalah Tauhid. 

I.1. Silsilah Ilmiah Belajar Tauhid

 SILSILAH ILMIAH BELAJAR TAUHID


Mengapa harus belajar Tauhid? Belajar tauhid merupakan kewajiban setiap muslim, karena Allah Subhanahu wa ta'ala menciptakan manusia dan jin hanya untuk bertauhid yaitu mengesakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦

"Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku" (51. Adz-Dzzriat : 56).

Itulah mengapa Allah Subhanahu wa ta'ala mengutus para Rosul ke setiap umat, tujuan nya adalah untuk mengajak mereka ke Tauhid.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ٣٦

"Dan sungguh-sunguh telah diutus kepada setiap umat seorang rosul yang berkata kepada kaumnya sembahlah Allah Subhanahu wa ta'ala dan jauhi Toghut" (16. An-Nahl : 36).

At-Toghut adalah segala sesembahan selain Allah Subhanahu wa ta'ala.

Jika seorang muslim yang tidak memahami tauhid yang merupakan inti dari ajaran Islam, sebenarnya dia tidak memahami agama nya meskipun dia mengaku telah mempelajari ilmu yang banyak. 

IV.3. Pengertian Islam

PENGERTIAN ISLAM Islam secara bahasa adalah penyerahan diri, Islam secara syari'at adalah penyerahan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu...